Debi dan Putri siswi kelas 5 SDN.Cempaka Baru. Mereka bersahabat sejak duduk di kelas 4. Sebagai dua sahabat yang sama-sama suka menulis dan membaca, tak jarang mereka sering ke warnet bareng untuk mencari info mengenai lomba menulis cerita, sekaligus menambah wawasan dengan mengunjungi situs-situs berpendidikan. Sore ini Debi dan Putri sedang di warnet dekat komplek perumahan. Tempat itu cukup sering mereka kunjungi, selain tempatnya yang nyaman Debi dan Putri juga sudah kenal dengan pemilik warnet itu. "Debi, ada lomba mengarang cerpen, nih! Batas pendaftarannya besok, lho!" seru Putri. "Maaf Put, tapi sekarang aku lagi gak berminat ikut lomba," sahut Debi. "Memangnya kenapa, Deb?" tanya Putri. "Gak apa-apa, lagi gak mau aja..." jawab Debi ketus. Hening. Mereka tak saling bicara sampai perjalanan pulang. "Dah Debi, sampai ketemu besok, ya!" seru Putri seraya membelokkan sepedanya ke Jl. Intan. Debi hanya tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya sendiri. Kenapa sih, dari tadi sifat Debi aneh? Apa dia kesal sama aku karena aku memintanya temani ke warnet? batin Putri sambil menyusuri jalan menuju rumahnya.
Hingga keesokan harinya di sekolah, Putri melihat Debi sedang menulis cerita. "Hai Debi! Sedang menulis cerita,ya..." sapa Putri menghampiri Debi. "Iya," jawab Debi singkat. "Kalau sudah selesai, aku baca, ya..." "Hm, maaf Put, kali ini kamu gak boleh baca cerpen aku!" ucap Debi ketus. Mendengar itu Putri menjadi heran dan sedih. Saat istirahat Debi dan Putri tidak ke kantin bareng. Awalnya Putri ingin mengajak Debi ke kantin, tapi ia takut Debi bersikap ketus lagi padanya. Putri pun ke kantin sendiri, sedangkan Debi tetap di kelas melanjutkan cerpennya. Sampai waktu pulang Debi dan Putri tidak saling tegur sapa. Hal ini membuat beberapa teman sekelasnya heran. "Hai Put! Kamu tidak pulang bareng Debi?" tanya Tasya. "Tidak, mungkin dia sedang ada masalah atau sedang sedih tapi dia tidak cerita padaku," ujar Putri. "Tapi kalian tidak bertengkar, kan?" tanya Rena. "Nggak kok, aku gak bertengkar dengan Debi tapi tadi pagi Debi ketus banget sama aku..." Putri menghela nafas. "Kalau ternyata Debi kesal sama kamu, bagaimana Put?" tanya Rena lagi. "Aku akan minta maaf, Debi itu sahabat terbaikku dan aku gak mau kehilangan dia," jawab Putri lirih. "Tenang, aku dan Rena akan bantu kamu untuk akrab lagi sama Debi, lagipula kalian kan baru sehari tidak tegur sapa, besok Debi pasti menyapa kamu lagi, kok!" hibur Tasya. "Iya Put, kamu jangan sedih, dong!" lanjut Rena. "Thanks ya!" ucap Putri sambil tersenyum.
"Hai Putri!" sapa Rena dan Tasya saat Putri memasuki kelas. "Hai juga!" Putri menaruh tas di bangkunya, lalu menghampiri Rena dan Tasya. "Debi kemana, ya? Kok tumben, sih dia belum datang?" tanya Putri. "Justru kita mau menanyakan itu," kata Tasya. "Hehehe... aku juga gak tahu" seru Putri. Teeet...... Bel berbunyi saat Debi memasuki kelas. "Itu Debi baru datang," kata Rena. "Iya Ren," ucap Putri dan Tasya berbarengan. "Assalamualaikum." Bu Sri memasuki kelas. Anak-anak yang sedang mengobrol kembali ke bangkunya masing-masing. "Wa'alaikum salam, Bu"
Putri menyapa Debi, namun Debi hanya membalas senyum. Putri coba menanyakan kenapa tadi dia terlambat dan Debi menjawab singkat, "kesiangan, semalam habis bikin cerpen." Heran, tidak pernah aku lihat Debi serajin ini mengarang cerpen, batin Putri. Setidaknya Debi sudah tidak ketus lagi. "Debi, pulang bareng tidak?" tanya Putri saat bel pulang berbunyi. "Sepertinya tidak bisa Put, aku pulang duluan, ya !" seru Debi yang langsung keluar kelas. "Putri, aku tahu kenapa kemarin Debi ketus padamu," ujar Tasya. "Kenapa, Sya?" tanya Putri. "Karna kamu minta ditemani ke warnet. Sebenarnya dia tidak ingin ke warnet karena ayahnya sudah beli komputer baru," jawab Tasya. "Oh ya? Darimana kamu tahu?" Putri masih tak percaya. "Tadi dia sendiri yang cerita padaku saat ku tanya," ucap Tasya seraya menggandeng Putri, "sudah, yuk kita pulang!"
"Putri... Aku menunggumu dari tadi, ayo kesini! Ada yang ingin ku tunjukan padamu!" seru Debi. "Ada apa, Deb? Pagi-pagi sudah heboh nih," kata Putri seraya menghampiri Debi di bangkunya. "Aku punya dua majalah baru nih, mau pinjam tidak?" Debi menunjukkan majalahnya. "Hm... iya deh, aku pinjam ya." Putri asyik membuka-buka majalah itu. "Oya Deb, kamu sudah punya komputer, ya?" tanya Putri. "Iya, ayah membelikannya untukku agar aku bisa mewujudkan cita-citaku menjadi penulis," jawab Debi. "Maaf ya, kalau kemarin aku mengajakmu ke warnet, aku tidak tahu kalau kamu sudah punya komputer." Debi mengangguk dan tersenyum ramah. Tiba-tiba bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi. Mereka pun belajar seperti biasa. Saat istrahat Debi mentraktir Putri di kantin. "Wah, makasih ya Debi, lagi banyak uang nih," canda Putri. "Enggak kok. Oya, saat kita ke warnet bareng katamu ada lomba cerpen, kamu jadi ikut?" tanya Debi. "Iya, aku sudah bikin cerpennya tapi belum ku kirim dengan email," jawab Putri. "Ya sudah, nanti sore kamu ke rumahku saja, tidak usah ke warnet," usul Debi. "Makasih banyak ya, Debi!"
Sudah hampir jam 5 sore, namun Putri belum datang ke rumah Debi. Padahal Debi sudah menunggunya dari jam 3. "Putri kok, belum datang ya? Aku sms dia saja, deh" gumam Debi sambil mengambil HP nya.
Put, dah hampir jam 5 nich km kox, blom dtg cie?
Itu isi sms yang dikirim Debi ke Putri. Tak lama kemudian ada balasan dari Putri.
Maaf, aq dah ke warnet bareng Tasya
"Lho, kok dia ke warnet sih? Katanya mau datang..." Debi mengirim sms lagi pada Putri.
Kox km gk dtg ke rumah aq?
Cukup lama Debi menungu jawaban namun tak ada balasan dari Putri. "Sudahlah, aku mandi saja sekarang."
Esok harinya di sekolah. "Put, kamu sudah kirim cerpen kamu?" tanya Debi. "Sudah, nih majalah kamu, makasih!" kata Putri ketus. "Lho, kamu kenapa Put?" tanya Debi heran. "Kamu tega, Deb!" seru Putri. "Tega kenapa? Aku gak ngerti masalah kamu," tukas Debi. "Kamu kirim cerpen ke majalah, kan? Di kedua majalah itu ada cerpen kamu dan kamu tidak beritahu aku. Kamu tahu aku juga ingin jadi penulis, kenapa kamu tidak mengajak aku untuk mengirim cerpen ke majalah? Aku tahu kenapa kamu tidak mengizinkan aku membaca cerpenmu, karna cerpen itu akan kamu kirim ke redaksi majalah, kan?" Debi tercengang, ia tidak menyangka Putri berkata seperti itu. "Put, aku ingin membuat kejutan untuk kamu. Lagipula honor pemuatan majalah itu juga untuk kita berdua, aku ingin mengajakmu ke toko buku hari Minggu nanti. Please jangan iri sama aku," ujar Debi. "Sorry aku gak iri sama kamu, aku tahu cerpen kamu lebih bagus dari aku tapi bukan gitu juga caranya ." Debi jadi bingung mengatasi sahabatnya ini. "Oke, bagaimana kalau aku bantu kamu mengirim cerpen ke majalah? Kita berlomba bikin cerpen paling banyak dan setelah itu semua cerpen karangan kita di kirim ke penerbit buku? Kita mengirim naskah bareng dan kita bisa terkenal bareng melalui buku itu... Bagaimana?" tanya Debi. "Kalau dalam waktu secepat itu aku nggak bisa, Deb. Memangnya kamu kira aku punya banyak uang untuk nge-print di warnet? Lagi pula semua cerpenku tidak ada yang diketik, butuh waktu lama untuk mengetik semua cerpenku," Putri masih marah pada Debi. "Kamu boleh pakai komputerku untuk ngetik dan nge-print. Sebelum aku punya komputer, cerpenku juga tidak ada yang di ketik. Ayo Put, kalau kita bikin bersama pasti kita jadi semangat dan cepat selesai!" seru Debi memohon. "Iya Put, kamu terima saja tawaran Debi, kamu sendiri yang bilang padaku kamu tidak igin kehilangan Debi karna dia sahabat terbaikmu," kata Tasya menghibur. "Oke. Debi, ku terima tawaran kamu. Tapi awas kalau nanti kamu bohongi aku!" seru Putri. "Iya, aku janji kalau mau mengirim cerpen ke majalah aku akan ngajak kamu," ujar Debi. "Nah, gitu dong. Kalian kan sahabat, harusnya melakukan apa-apa bersama, apalagi hobi dan cita-cita kalian sama, jadi kalian bisa mengukir prestasi bersama," ujar Tasya. Putri menghela nafas, "Iya, makasih ya Tasya dan Rena, kalian telah menjadi teman baikku selama aku dan Debi ada konflik kecil." "That's what friends are for, to complement each other," kata Tasya. Rena, Tasya, Debi dan Putri tertawa kecil. "Dan maaf ya, Deb aku tadi marah sama kamu, aku gak bisa nahan emosi," kata Putri. "Iya gak apa-apa, sahabatku."
bagus ceritanya
BalasHapusThanks ya...
BalasHapusKeren!
BalasHapus