Senin, 27 Desember 2010

Keterlambatan Pak Kera

Malam ini bulan bersinar terang menerangi kegelepan. Dihutan belantara yang masih asri dan sejuk, semua warga hutan berkumpul untuk merayakan upacara menyambut musim hujan yang sudah menjadi tradisi dihutan itu, sekaligus mempererat tali persaudaraan.Upacara itu dipimpin oleh seekor kera tua yang biasa dipanggil 'Pak Kera'. Hari sudah semakin larut, yang ditunggu belum juga datang. Semua yang hadir tampak gelisah, mereka takut hujan tidak turun lagi dihutan karena upacara tidak dilaksanakan. Kalau hal itu terjadi, tak ada lagi sumber mata air dan mereka akan mati kehausan.

"Hei... Sampai kapan kita harus menunggu? aku sudah tak sabar lagi" kata serigala dengan geram. "Ya, kita harus mencari Pak Kera sebelum tengah malam, tentunya kita tak mau kan, hutan ini dilanda kekeringan" lanjut gajah. "Ya... ya... ya... kita tidak mau sengsara karena ulah si kera tua itu" teriak warga hutan dengan lantang."Tenanglah saudara-saudara, Pak Kera tak mungkin ingkar janji, ia pasti sedang ada keperluan penting" kata singa menenangkan rakyatnya. "Maaf raja, tapi kami sudah terlalu lama menunggu, kami geram" kata gajah dengan sopan. "Bersabarlah kalian menunggu, jangan ada yang pergi mencari Pak Kera karena masalahnya akan tambah runyam kalau kalian berpisah" Kata si raja hutan dengan bijak.

"Kami tidak punya banyak waktu lagi, Yang Mulia, entah apa yang terjadi kalau hujan tidak turun di hutan ini, sungai dan sumur akan kering, kita akan mati" lanjut gajah lagi. Sebelum sang raja bicara, srigala sudah bicara lebih dulu, "mengapa tidak kita gantikan saja kera tua itu dengan raja yang bijak". Semua warga hutan terdiam, srigala berjalan mendekati singa dan berkata, "Yang Mulia, hamba usulkan bagaimana kalau Yang Mulia menggantikan kera tua itu". "Kalau memang demikian, kami setuju..." kata warga hutan serempak.Singa mengaum sangat keras dihadapan srigala, membuat semua yang hadir menjadi takut. "Aku tidak setuju" seru singa dengan lantang, "kita tidak boleh secepat itu menggantikan Pak Kera, lagipula kita belum tahu apa yang terjadi dengannya, aku yakin dia pasti datang". Suasana hutan menjadi hening. Mereka kembali menunggu Pak Kera yang tak kunjung datang.

Setelah lama warga hutan menunggu, Pak Kera muncul dari balik rerimbunan sambil menggendong seekor anak beruang madu yang pingsan. "Maaf semuanya, kalian pasti sudah lama menungguku" kata Pak Kera. Warga hutan terkesiap sekaligus gembira melihat kehadiran Pak Kera. Tetapi tidak demikian dengan srigala, ia malah panik dan gelisah melihat anak beruang madu yang ada dalam pelukan Pak Kera."Yang Mulia, hamba mohon maaf atas keterlambatan hamba" kata pak Kera, "dalam perjalanan kesini, hamba melihat dua orang pemburu menembak anak ini, hamba mengejar pemburu itu dan segera menolong dia, hamba mencari obat-obatan untuknya". Singa sangat terkejut, begitupun semua warga hutan. Namun, yang paling terkejut adalah srigala karena anak yang ditolong oleh Pak Kera adalah Mimi, anak sahabatnya sendiri.

"Srigala, bukankan anak ini bernama Mimi?" tanya Pak Kera. Dengan malu srigala menjawab, "ya Pak kera". "Srigala, bukankah kau ditugaskan oleh kedua orang tua Mimi untuk menjaga Mimi?" tanya Pak Kera lagi. "Ya" srigala menjawab dengan singkat, ia malu sekali. Semua warga hutan tercengang, mereka tahu bapaknya Mimi sedang sakit, maka ibunya Mimi tidak bisa mengantarkan Mimi. "Hai srigala, bukankah bapak Mimi terluka saat menyelamatkanmu dari pemburu? Lantas kenapa kau tidak menjaga Mimi dengan baik? Mengapa Kamu tinggalkan dia sampai dia tertembak oleh pemburu?" tanya gajah dengan geram. Srigala sangat malu, ia tidak berkata apa-apa.


"Sudahlah, sekarang kita laksanakan saja upacara ini mumpung masih ada waktu, kita pergunakan waktu yang ada" seru singa. Akhirnya upacara dilaksanakan dengan singkat. Semua warga rimba terlihat gembira. Seusai upacara, Pak Kera menasihati srigala agar tidak bersikap ceroboh lagi. Awalnya, srigala berangkat bersama Mimi, namun mereka terpisah karena begitu banyak rombongan binatang yang juga ingin hadir diupacara ini. "Srigala, waktu sangatlah penting, untung saya tadi tidak terlambat menyelamatkan Mimi, dan sahabat juga sangat berharga karena tanpa sahabat hidupmu terasa hampa, maka jangan kecewakan sahabatmu" nasihat Pak Kera. "Kedua orang tua Mimi pasti marah dan kecewa sekali padaku" sesal srigala. "Tidak, sahabat sejati pasti akan saling memaafkan" kata Pak Kera lagi. "Dan kamu juga harus belajar menghormati orang yang lebih tua darimu" sambung singa. Hati srigala menjadi tenang mendengar nasihat Pak Kera, "maafkan hamba, Yang Mulia, dan terima kasih atas nasihatnya Pak Kera, hamba pamit pulang mengantarkan Mimi kerumahnya sekalian minta maaf pada kedua orang tuanya" tutur srigala.


Karya: Alifana siti ken des silvana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar